Latar Belakang
Fenomena mengenai profesi seseorang
yang tidak sesuai dengan pekerjaan yang ia tekuni sangat banyak kita temukan,
hal tersebut terjadi karena banyak faktor, diantaranya yaitu kurangnya lapangan
pekerjaan, masalah gaji yang kurang mencukupi, atau ada faktor pendorong lain
yaitu adanya keinginan seseorang untuk mengembangkan bakat berbisnis atau usaha
yang lebih menjamin dan menjanjikan terlepas dari campur tangan ijazah sarjananya. Dalam melihat fenomena
tersebut, kita dapat memandangnya dari kacamata sebelah kanan dan juga kacamata
sebelah kiri.
Melalui
makalah yang akan saya paparkan ini, kita akan membahas fenomena tersebut dari
kacamata sebelah kiri, salah satu hal yang sangat berkaitan dan menjadi sorotan
di Indonesia yaitu masalah banyaknya sarjana atau kaum terdidik yang menganggur
di Indonesia yang setiap tahun selalu
saja meningkat seiring dengan semakin banyaknya perguruan tinggi yang melakukan
wisuda para sarjana nya, hal tersebut dapat menciptakan persaingan lowongan
pekerjaan bagi para penyandang sarjana, sehingga tidak sedikit dari mereka
memilih alternatif lain yaitu misalnya memilih pekerjaan lain namun terlepas
dari gelar sarjana yang dimilikinya.
Hasil survei
yang diadakan oleh ECC UGM menunjukkan bahwa 67 persen dari jumlah responden
menyatakan mereka tidak bekerja di bidang yang sesuai dengan latar belakang
pendidikannya. Jumlah ini dua kali lebih banyak dibandingkan mereka yang
mengatakan sudah bekerja sesuai jurusannya, yaitu sebanyak 33 persen. Ini
menunjukkan bahwa dalam berkarir, latar belakang pendidikan tidak lagi menjadi
syarat utama dalam menekuni profesi tertentu.
Permasalahan Profesi dan Dunia Pekerjaan di Indonesia
Istilah
profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal yang berkaitan
dengan bidang yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian, sehingga
banyak orang yang bekerja tetap sesuai. Tetapi dengan keahlian saja yang
diperoleh dari pendidikan kejuruan, juga belum cukup disebut profesi. Tetapi
perlu penguasaan teori sistematis yang mendasari praktek pelaksanaan, dan
hubungan antara teori dan penerapan dalam praktek sedangkan pekerjaan (occupation)
adalah setiap aktivitas kerja, baik yang menghasilkan imbalan ataupun yang
bersifat sukarela (tanpa imbalan). Sebagai contoh, pekerjaan sebagai staf
operator computer (sekedar mengoperasikan), tidak masuk dalam golongan profesi
jika untuk bekerja sebagai staf operator tersebut tersebut tidak membutuhkan
latar belakang pendidikan,pengetahuan dan pengalaman tertentu.
Di Indonesia,
banyak sekali masyararakat yang bekerja tidak sesuai dengan profesi, misalnya
lulusan jurusan FKIP bekerja di sektor perkantoran, lulusan Teknik kimia malah
bekerja menjadi tenaga pendidik, bahkan ada yang menyandang gelar sarjana namun
bekerja menjadi buru bangunan. Bekerja tidak sesuai dengan jurusan ini memang
menjadi alternatif pilihan seiring dengan besarnya persaingan didunia pekerjaan,
namun meski banyak dijalani oleh para pekerja, tetapi tidak sedikit pula yang
merasa tidak nyaman dengan pekerjaannya. Bekerja menyimpang dari latar belakang
pendidikan artinya harus mempelajari hal-hal baru, kultur baru, dan lain
sebagainya yang kadang tidak sesuai dengan passion sehingga menyebabkan
ketidaknyamanan.
Saat ini
banyak orang tidak bekerja sesuai jurusan karena beberapa alasan. Di antaranya
adalah, pertama, pekerjaan di sektor publik (PNS) terbatas dan sangat ketat
persaingannya. Kedua, sektor swasta atau perusahaan jarang yang meminta
kualifikasi spesifik dari jurusan tertentu, terlebih untuk bidang sosial
humaniora. “Pada keterangan kualifikasi yang dibutuhkan, mereka hanya
mencantumkan keterangan ‘semua jurusan’ saja. Inilah yang kemudian memperbesar
peluang suatu posisi diisi oleh mereka yang tidak berasal dari jurusan sesuai
pekerjaannya.
Faktor lain yang menyebabkan
fenomena banyaknya masyarakat yang “Bekerja tidak sesuai dengan profesi” yaitu
:
1.
Lapangan kerja saat ini diperebutkan oleh tenaga kerja dari berbagai level,
sehingga supply lebih besar daripada
kebutuhan angkatan kerja, mau tidak mau persaingan berbicara tentang kualitas, expected salary (gaji yang diharapkan)
serta pengalaman kerja .
2.
Sarjana yang baru lulus bersaing dengan lulusan SMA atau Diploma yang telah
memiliki pengalaman kerja dan "Additional
value " seperti sertifikasi kompetensi, keterampilan tambahan , tentu
pilihan pengusaha adalah mereka yang bisa memberikan kontribusi terbanyak .
3.
Perusahaan mengharapkan pekerja sudah memiliki keterampilan kerja pada
posisi yang ditawarkan, sedangkan sarjana (terutama yang baru lulus) sama sekali
masih buta dengan dunia kerja, etos kerja, apalagi jika menyangkut tingkat
kedewasaan menghadapi konflik dalam pekerjaan.
Faktor-faktor tersebut tidak hanya
menuntut para penyandang sarjana untuk bekerja tidak sesuai dengan jurusannya,
namun yang lebih miris, banyak sarjana yang menganggur karena sulitnya
mendapatkan pekerjaan. Strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi fenomena
sarjana yang tidak bekerja sesuai profesi adalah:
1.
Merubah sistem pendidikan di Indonesia
yang dapat menghasilkan lulusan-lulusan berkualitas dan siap untuk menduduki
pekerjaan sesuai dengan keahlian.
2.
Menciptakan lapangan pekerjaan baru, agar
para penyandang sarjana dapat bekerja sesuai dengan profesi dan keahlian sesuai
dengan ilmu yang ia miliki.
3.
Tanamkan jiwa belajar dan membaca kepada
para sarjana untuk merubah pola pikir mereka terhadap pekerjaan atau pemenuhan
kebutuhan hidup.
4.
Memberdayakan para sarjana untuk
mengembangkan daerah pedesaan serta memberikan pandangan bahwa mau bekerja jika
ditempatkan dimana saja, agar ijazah sarjana yang ia miliki dapat berkontribusi
dalam pekerjaan yang ia tekuni.
Kesimpulan
Banyaknya masyarakat yang bekerja tidak sesuai dengan profesi yang ia
miliki, memberikan warna tersendiri bagi dunia pekerjaan di Indonesia, ada sisi
positif dan juga sisi negatif yang kita ambil. Sisi negatifnya yaitu banyaknya
para sarjana bekerja namun terlepas dari ijazah sarjana yang mereka miliki,
bahkan karena persaingan lowongan pekerjaan yang semakin ketat dan banyaknya
perusahaan yang membebaskan karyawan baru tanpa sesuai dengan jurusan pekerjaan
tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi sarjana-sarjana yang memiliki ijazah
di bidang tersebut, tidak sedikit para penyandang sarjana yang menganggur dan
harus menguras pikiran mereka untuk mencari alternatif pekerjaan.
Jadi bagi calon sarjana, baiknya selama kuliah kita membekali diri dengan
keterampilan yang memberikan kita nilai tambah . Apabila kita berniat untuk
menjadi pekerja yang profesional, bekali diri dengan keterampilan yang tidak
diajarkan di bangku kuliah, seperti bahasa asing, menulis laporan ilmiah,
teknik presentasi, grooming (penampilan diri), bagaimana menunjukan sikap yang
menyenangkan bagi orang lain, serta mempelajari seluk beluk bisnis perusahaan
yang diminati, karena yang demikian lebih disukai pengusaha daripada
mengandalkan ijazah. Hal tersebut kita lakukan demi bisa ikut bersaing didunia
pekerjaan yang sekarang semakin ketat, walaupun
bekerja tidak sesuai dengan profesi yang kita miliki namun setidaknya
kita bisa mengembangkan keahlian kita di dunia pekerjaan.
Daftar
Pustaka :
Dwidjowijoto, Riant Nugroho. 2006. Kebijakan Publik: Untuk Negara-Negara
Berkembang. Jakarta: Elex Media Kompetindo
Wilda, Ratih. 2015. Kerja Tak Sesuai
Jurusan, Hanya 34% yang Merasa Nyaman.http://careernews.id/issues/view/3434-kerja-tak-sesuai-jurusan-hanya-34persen-yang-merasa-nyaman.
Diakses Pada 20 September 2015

